March 12, 2009

Cha (potongan kedua)

(Potongan novel yang pingin kutulis tapi tak jadi-jadi)

Aku muak. Cukup sudah hamper enam tahun berpura-pura menjadi orang biasa di sini, diantara orang-orang sangat biasa lainnya. Aku pantas mendapat liburan setelah bekerja sebagai aktris yang baik selama ini, tampil sempurna tanpa seorang pun tahu siapa aku sebenarnya. Plus dua minggu terakhir nonstop ke kantor tanpa sehari pun libur.

I deserve to this! Hanya beberapa waktu yang kuminta di sela-sela waktu kerja untuk baca komik online. Dimana salahku? Kalau kemudian telepon menjerit-jerit di deretan meja forecaster di belakang sana… Cih! Kemana sih orang-orang lain? Kalau lagi begini baru aku merasa kalau orang apatis itu menyebalkan, apalagi jika orang itu bukan dirimu sendiri.

Kesal kuseret juga kakiku ke meja telepon. Masih sempat aku mengangkatnya, barangkali sebelum dering terakhir. Dari TV. Sial, aku lupa membuat update prakiraan Jakarta. Bagus sekali, diingatkan pada pekerjaan adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidupku di saat-saat seperti ini.

Oke, cukup sudah bekerja dengan cara modern. Aku tak tahan lagi. Saatnya kembali ke metode primitif.

Bersungut-sungut aku memaksa diriku menyeberangi ruangan seluas dua kali lapangan tenis minus manusia ini untuk mencapai pintu ke lorong. Lorong sepi, seperti ruangan yang baru kutinggalkan barusan. Di ujung aku berbelok ke kiri, menemukan tangga dan naik dua lantai hingga mencapai ruangan kecil di atap gedung. Kubuka pintu beton yang memisahkan diriku dengan hawa di luar. Pintu terbuka dengan derit menyakitkan.

Fuaaaah !!! Akhirnya! Akhirnya aku mengunjungi lagi tempat ini setelah sekian lama. Aku tidak bisa sering-sering menyelinap ke sini pada waktu jam dinas kan? Apalagi mereka punya metode prakiraan baru yang lebih modern dari caraku yang tergolong kuno. Melibatkan workstation dengan layar-layar berukuran lebih dari 40 inchi, teknologi satelit dan radar-radar bernilai milyaran yang tiap tahun selalu bertambah. Well, hari ini aku akan mencoba lagi cara lama. Bukan berarti aku sama sekali tidak melakukannya selama ini, tapi, yah, tahulah, mudah mengabaikan sesuatu ketika kita sedang memikirkan hal lain, meski sesuatu itu begitu menyatu mendarah daging denganmu. Aku merasakanya, tapi aku tidak memperhatikan. Itu saja pembelaanku.

Angin berhembus di sekitarku seketika tubuhku meraih udara bebas di sekitarnya. Aku bernafas. Tidak, maksudku kulitku bernafas. Aku merasakan semuanya. Aliran udara dari timur menabrak lembut lengan kananku, berbelok mengikuti lekuknya dan kembali meraih tujuan awalnya begitu lepas dari kelokan badanku, menabrak lalu menghindari kaki receiver satelit dua meter di sebelah kiriku. Aku mengambil beberapa langkah ke depan, mencari tempat yang lebih tinggi. Lebih bebas.

Ini dia. Aku jelas merasakannya. Getaran yang menyentuh ujung-ujung jariku, dan di seluruh permukaan kulitku yang terbuka. Getaran lembut. Mudah mengabaikannya semudah merasakannya sekarang. Paduan aliran udara, temperatur, tekanan, kelembaban, semuanya. Dari timur angin berhembus pelan, 10 knot. Tidak. Terlalu besar. 7 knot. Cukup hangat tapi tidak cukup menyengat. Aku yakin kisarannya hanya sekitar 31 – 32 derajat Celcius. Seingatku sudah beberapa hari terakhir seperti ini.

…(bersambung sampai entah kapan)

March 9, 2009

review: vampire knight

230px-vampire_knight2c_volume_1Gara-gara Edward (Twilight Saga) aku baca komik pun nyari-nyari yang bau-bau vampir. Ketemu yang ini, Vampire Knight. Tokoh utamanya, Yuki Cross, seluruh memori yang masa lalunya dimulai hanya setelah ia berumur 10 tahun, ketika saat itu, Kaname Kuran menyelamatkannya dari serangan seorang vampir tua yang kelaparan (kehausan deng).

Ia yang diadopsi kepala sekolah Cross Academy suatu hari dikenalkan oleh Zero Kiryu yang seluruh keluarganya terbunuh vampir.

Masalah besar pertamanya adalah bahwa akademi yang didirikan oleh Kaien Cross ini ternyata menyimpan rahasia. Di sana siswa dibagi dua, kelas siang dan kelas malam. Kelas siang sih terdiri dari orang-orang biasa, tapi kelas malam keseluruhannya terdiri dari vampir. Bersama Zero, Yuki menjadi prefect di akademi tersebut dengan tugas memastikan rahasia kelas malam tidak bocor ke luar, sekaligus melindungi siswa-siswanya dari insting dasar diri mereka sendiri memburu manusia, siswa-siswa kelas siang.

Di cerita ini dunia vampir digambarkan agak rumit. Ada strata-strata di dalamnya, mulai dari kelas A, para darah murni, B, bangsawan, sampai E, kelas vampir yang nyawanya tidak lebih berharga dari lalat pengganggu. Ditambah lagi ada dewan vampir dan organisasi pemburu vampir.

Yang menarik dari manga ini adalah bahwa ceritanya tidak sekedar berputar-putar di kisah romantis standar berebut cewek, tapi melibatkan hal-hal lain yang lebih serius seperti korup dalam dewan vampir, konflik terkait status, pembunuhan, dan yang agak bikin merinding: incest.

Afterall, manga yang ini worth-readed deh. Aku sudah download animenya, ni lagi nunggu waktu luang aja mo nonton.

Have a nice reading!

| baca online: http://onemanga.com/Vampire_Knight/ |