(Potongan novel yang pingin kutulis tapi tak jadi-jadi)
Aku muak. Cukup sudah hamper enam tahun berpura-pura menjadi orang biasa di sini, diantara orang-orang sangat biasa lainnya. Aku pantas mendapat liburan setelah bekerja sebagai aktris yang baik selama ini, tampil sempurna tanpa seorang pun tahu siapa aku sebenarnya. Plus dua minggu terakhir nonstop ke kantor tanpa sehari pun libur.
I deserve to this! Hanya beberapa waktu yang kuminta di sela-sela waktu kerja untuk baca komik online. Dimana salahku? Kalau kemudian telepon menjerit-jerit di deretan meja forecaster di belakang sana… Cih! Kemana sih orang-orang lain? Kalau lagi begini baru aku merasa kalau orang apatis itu menyebalkan, apalagi jika orang itu bukan dirimu sendiri.
Kesal kuseret juga kakiku ke meja telepon. Masih sempat aku mengangkatnya, barangkali sebelum dering terakhir. Dari TV. Sial, aku lupa membuat update prakiraan Jakarta. Bagus sekali, diingatkan pada pekerjaan adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidupku di saat-saat seperti ini.
Oke, cukup sudah bekerja dengan cara modern. Aku tak tahan lagi. Saatnya kembali ke metode primitif.
Bersungut-sungut aku memaksa diriku menyeberangi ruangan seluas dua kali lapangan tenis minus manusia ini untuk mencapai pintu ke lorong. Lorong sepi, seperti ruangan yang baru kutinggalkan barusan. Di ujung aku berbelok ke kiri, menemukan tangga dan naik dua lantai hingga mencapai ruangan kecil di atap gedung. Kubuka pintu beton yang memisahkan diriku dengan hawa di luar. Pintu terbuka dengan derit menyakitkan.
Fuaaaah !!! Akhirnya! Akhirnya aku mengunjungi lagi tempat ini setelah sekian lama. Aku tidak bisa sering-sering menyelinap ke sini pada waktu jam dinas kan? Apalagi mereka punya metode prakiraan baru yang lebih modern dari caraku yang tergolong kuno. Melibatkan workstation dengan layar-layar berukuran lebih dari 40 inchi, teknologi satelit dan radar-radar bernilai milyaran yang tiap tahun selalu bertambah. Well, hari ini aku akan mencoba lagi cara lama. Bukan berarti aku sama sekali tidak melakukannya selama ini, tapi, yah, tahulah, mudah mengabaikan sesuatu ketika kita sedang memikirkan hal lain, meski sesuatu itu begitu menyatu mendarah daging denganmu. Aku merasakanya, tapi aku tidak memperhatikan. Itu saja pembelaanku.
Angin berhembus di sekitarku seketika tubuhku meraih udara bebas di sekitarnya. Aku bernafas. Tidak, maksudku kulitku bernafas. Aku merasakan semuanya. Aliran udara dari timur menabrak lembut lengan kananku, berbelok mengikuti lekuknya dan kembali meraih tujuan awalnya begitu lepas dari kelokan badanku, menabrak lalu menghindari kaki receiver satelit dua meter di sebelah kiriku. Aku mengambil beberapa langkah ke depan, mencari tempat yang lebih tinggi. Lebih bebas.
Ini dia. Aku jelas merasakannya. Getaran yang menyentuh ujung-ujung jariku, dan di seluruh permukaan kulitku yang terbuka. Getaran lembut. Mudah mengabaikannya semudah merasakannya sekarang. Paduan aliran udara, temperatur, tekanan, kelembaban, semuanya. Dari timur angin berhembus pelan, 10 knot. Tidak. Terlalu besar. 7 knot. Cukup hangat tapi tidak cukup menyengat. Aku yakin kisarannya hanya sekitar 31 – 32 derajat Celcius. Seingatku sudah beberapa hari terakhir seperti ini.
…(bersambung sampai entah kapan)
